
Sebuah otak-atik-gatuk (cocokologi) yang menarik bagi saya. Kita dianugerahi dua telinga (ear). Dengannya kita bisa mendengar (hear) -meski saya lebih menyukai listen (mendengarkan) untuk hal ini-. Kemudian kita bisa belajar (learn). Semua denganĀ huruf e, a, dan r, secara berurutan. Menarik. Cocokologi yang menarik.
Sebagian besar kita, belajar dengan mendengar dan melihat. Mendengar lebih dahulu dialami dibandingkan melihat. Bayi mendengar sejak di dalam kandungan. Darinya, mungkin bayi mulai belajar. Tanpa melihat.
Pendidikan formal di Indonesia pun turut mendukung dan menuntut perkembangan belajar berbasis mendengarkan. Mendengarkan untuk belajar. Meski kita jarang belajar mendengarkan. Sebagaimana sering saya singgung di berbagai kesempatan di seri-seri sebelumnya.
Belakangan saya berusaha lebih banyak menggunakan telinga kiri saya. Ups, ya, telinga kanan saya memang ada sedikit masalah. Menggunakan ear untuk lebih banyak hear. Mengurangi bicara yang sifatnya reaktif. Meski masih sering tergoda. Tapi lumayan. Ternyata hati lebih tentram, alhamdulillah.
Ternyata tidak sesusah yang terbayang selama ini. Dan tidak ada yang kurang atau salah, untuk hanya sekadar mendengarkan. Bahkan di situasi tertentu tanpa perlu menanggapi.
Kita perlu dan layak mencobanya: menjadi pendengar yang baik.
(WS)