Posted on Leave a comment

Cinta Pekerjaan

Seri-13, Layanan

Foto: pixabay (pexels.com)

Mengapa uring-uringan?” Tanya Bapak saya pada suatu waktu. Dalam bahasa Jawa. Kepada adik saya. Ketika kami masih sekolah.
Itu lho Pak, pelajaran di sekolah, aku nggak paham-paham!”. Keluhnyi, karena sulit memahami salah satu pelajaran matematika. Sebel aku. Aku nggak suka matematika.
Kita tidak akan sukses, kecuali kita mencintai pelajaran tersebut. Demikian pula dengan masalah yang lain. Pekerjaan, lingkungan, keluarga“. Nasihatnya begitu membekas.

Kami (saya dan adik) sempat berbincang tentang berbagai cinta yang pernah diungkapkan Bapak kami. Cinta kepada Allah, Cinta kepada Rasulullah, Cinta Kepada Orang Tua, Cinta Kepada Keluarga, Cinta Kepada Ilmu dan Pelajaran, Cinta Kepada Pekerjaan, Cinta Kepada Lingkungan/Masyarakat, Cinta kepada Tempat kita hidup dan Bekerja. Ya, ada delapan cinta yang pernah kami dengar darinya. Delapan cinta untuk hidup bahagia, demikian kami menyebutnya.

Dalam bekerja, kaitannya interaksi dengan orang lain, pekerjaan kita adalah melayani orang lain. Kolega, atasan, tim, pelanggan, adalah pelanggan kita. Pelanggan internal maupun eksternal. Bahkan kepada keluarga kita sendiri. Pelayanan tidak dapat sepenuh hati, jika tidak ada cinta.

Jika kita saat ini sedang berada pada titik “tidak suka” dan “tidak cinta” pada pekerjaan kita, mungkin tips berikut akan sedikit membantu.

Flash Back. Ingatlah momen menyenangkan di hari ini, di minggu ini, atau dimasa lalu tentang pekerjaan kita. Jangan-jangan kita mudah melupakannya. Lupa cara berbahagia dalam hal yang kita kerjakan.

Bangun hubungan. Jalin dan perbaiki hubungan dengan kolega kita. Jika pernah salah, atau paling tidak ada peluang dimana kita mungkin bisa salah, minta maaf adalah solusi terindah.

Respek. Hargai dan nikmati pendapatan kita saat ini. Ketika bekerja tentu mendapatkan pendapatan, upah, gaji, laba dan sebutan lainnya. Bukan soal besar atau kecilnya. Jika sudah lumayan, tentu sebuah alasan bagus untuk lebih mencintai Pekerjaan. Namun, poin pentingnya, sudahkah kita mengapresiasi dan bersyukur atas terhadap gaji/pendapatan yang diterima?
(WS)

Posted on Leave a comment

Memaknai Pekerjaan

Seri-12, Layanan

Beberapa seri sebelumnya kita banyak berdiskusi tentang profesional dari sisi fisik. Dapat dilihat. Dapat disentuh. Dan Dapat dinilai orang lain.

Pada seri ini, saya ingin mendiskusikan mengenai pekerjaan dan sikap diri terhadap pekerjaan. Ini lebih ke arah dalam. Ke arah diri kita sendiri.

Mengapa diskusi ini penting? Karena kita tidak dapat memberikan layanan yang baik dalam pekerjaan kita -lebih-lebih sebagai penjual-, tanpa adanya pemaknaan dalam pekerjaan kita.

Apakah kita bahagia dengan pekerjaan kita saat ini? Pertanyaan ini terlepas berapa penghasilan yang diterima dari pekerjaan. Tidak semua orang mampu berbahagia dengan pekerjaannya. Padahal sebagian kita menghabiskan waktu dan energi -sembilan, sepuluh, bahkan sampai 16 jam- untuk bekerja. Belum perjalanan dari dan ke tempat kerja.

Pertanyaan berikutnya, sudahkah kita mengetahui apa sesungguhnya hakikat pekerjaan kita? Apa makna pekerjaan ini bagi kita?

Anugerah. Saya teringat kata-kata yang bertebaran di beranda media sosial “pekerjaan yang kita keluhkan, adalah impian bagi pengangguran dan pelamar kerja”. Jika kita memiliki pekerjaan, kita patut bersyukur. Berarti kita termasuk yang mendapat anugerah dari Tuhan. Ketika mampu bersyukur, maka gairah bekerja akan datang.

Ibadah. Saya berkeyakinan bahwa bekerja adalah kewajiban. Menjalankan kewajiban adalah ibadah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman (yang artinya):
Apabila salat (Jumat) telah dilaksanakan, bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah, dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.
(Al-Jumu‘ah [62]:10).

Dalam bekerja kita harus niatkan melaksanakan kewajiban dan sebagai pelaksanaan perintah Tuhan. Tidak syak lagi, bahwa bekerja adalah ibadah.

Kehormatan. Sebagai penjual -ujung tombak sistem-, sekuriti, manajer, staf atau apapun itu, memiliki peran penting. Bagi diri, keluarga dan tempat kerja. Karena itu, kita perlu menghormati pekerjaan kita. Menghormati pekerjaan kita, berarti menghormati diri kita sendiri.

Pelayanan. Hasil pekerjaan kita, langsung ataupun tidak akan digunakan orang lain. Di level manapun kita bekerja. Karena itu, bekerja berarti memberi pelayanan kepada orang lain dalam sistem. Memenuhi kebutuhan, memberi kenyamanan, memberi pertolongan, memberi kebahagiaan, kepada aorang lain, merupakan salah satu arti dari bekerja.

(WS)

Posted on 6 Comments

Tampak Profesional

Seri-11, Layanan

Foto: Caleb Oquendo (pexels.com)

Hei, penampilanmu jadi necis nggak ditanyai nyonya (istri)? ” Tanya salah satu kolega saya pada kesempatan belum lama ini.
“kenapa memangnya?!” Tanya saya kembali. Agak heran.
Siapa tahu tiba-tiba jadi rapi, berpenampilan necis, ada sesuatu. Dicurigai mau cari istri lagi“.
Hahaha, nggaklah. Istri saya malah yang suruh. Karena kejadian saya ditegur Bapak e (sebutan kami untuk Pimpinan kami). Sebenarnya istriku sudah ingatkan untuk cukur, beli baju baru. Memperbaiki penampilan. Tapi masih ku tunda. Hingga kejadian itu. Hahaha“.

Sepenting itu penampilan. Harus diingatkan. Harus ditegur. Mungkin terkadang perlu dipermasalahkan. Untuk diperbaiki sesuai dengan profesi kita.

Ada beberapa panduan umum dansingkat terkait penampilan. Perlu saya tegaskan, ini dapat disesuaikan dengan pelanggan yang akan kita hadapi. Maka kita perlu perhatikan dan rencanakan, kapan dan pelanggan siapa yang hendak kita temui. Saya juga masih sering terlupa.

Rambut. Jaga kebersihan dan kerapiannya. Jangan sampai menutupi wajah, atau menutupi sebagian besar kening. Hindarilah gaya rambut yang aneh dan nyeleneh. Jika bingung, tanyalah kapster (tukang cukur) mengenai model yang sesuai dengan bentuk wajah dan kepala. Yang penting tetap terkesan profesional. Setelah selesai cukur rambut, tanyakan, jika mau cukur seperti ini lagi apa nama jenis/model cukurannya.

Rambut putih sudah banyak. Tidak ada masalah. Jika hendak pakai pewarna, jangan yang mencolok. Gunakanlah coklat tua.

Bagi wanita berjilbab, pastikan rambut dan jilbab ditata rapi. Sesuaikan warna jilbab dengan pakaian bawahnya.

Cukur kumis secara rutin. Jika hendak memelihara kumis dan jenggot, pastikan tetap bersih dan rapi. Rapikan secara rutin dan periodik.

Wajah. Bukan masalah ganteng atau cantik. Itu tidak bisa diubah (kecuali dengan operasi)

Rawat dan bersihkan wajah. Jika kondisi jerawat dan permasalahan terlalu parah, sisihkan uang dan waktu untuk pergi ke klinik kecantikan (dan kegantengan). Konsultasikan dengan dokter. Lakukan perawatan dan tindakan yang sesuai. Mungkin dibutuhkan tiga sampai empat kali, agar wajah menjadi lumayan.

Istirahat yang cukup, jaga pola makan. Olahraga teratur untuk menjaga kebugaran.

Bagi wanita, bermake-up secukupnya. Sehingga dapat menampakkan kecantikan yang natural. Tidak menimbulkan kesan negatif.

Tangan. Jaga kebersihan kuku. Potonglah pendek.

Mulut dan Gigi. Jaga kebersihannya. Jangan bau mulut. Sikat gigi teratur dan setelah makan berbau tajam (jengkol, petai, bawang mentah). Pakailah obat kumur jika diperlukan.

Bersihkan karang gigi. Rawatlah ke dokter jika ada yang rusak. Gigi rusak dapat menyebabkan bau mulut.

Tubuh. Jangan burket (bubur ketek/ketiak). Bau ketiak karena basah dan lembab. Sangat menganggu. Atasilah bau badan. Cukurlah bulu ketiak. Pakailah bedak pencegah bau ketiak atau deodoran. Mandi teratur. Segar dan wangi adalah kondisi yang ideal.

Mungkin kita akan bertemu pelanggan di kebun, ladang, sawah. Jika berkeringat dan hendak bertemu pelanggan berikutnya, mandilah. Masjid dan SPBU di Indonesia memungkinkan untuk itu. Jadi tidak ada alasan tidak ada tempat mandi. Siapkanlah alat tersebut di kendaraan.

Pakai parfum secukupnya. Wanginya yang kalem, tidak menyengat. Jangan kelembaban kulit. Pastikan tubuh, badan, terlihat terawat dan sehat.

Jaga kebersihan kaki, kaus kaki, dan sepatu. Jangan sampai bau kaki.

Busana. Pastikan tidak kebesaran atau kekecilan. Tidak bermaksud body shaming, tapi jika ukuran pakaian kita terus membesar, kita perlu berpikir sejenak untuk itu.

Sesuaikan pakaian dengan pelanggan. Kemeja lengan panjang, mungkin dengan jas dan dasi, cocok untuk pelanggan korporasi dan acara resmi.

Kemeja lengan pendek, batik, adalah pakai yang fleksibel. Celana panjang, ikat pinggang, sepatu dan kaos kaki, perlu dipikirkan padu padannya.

Kaos berkerah dan jins, sepatu lapang adalah pilihan saya untuk ke petani, retailer dan masih bisa untuk pelanggan lain. Siapkan sepatu boot karet. Bersiaplah turun ke sawah.

Aksesoris. Gunakan secukupnya. Tidak berlebihan. Dan tidak terlalu mewah: sesuaikan dengan pelanggan. Saat ini pria wanita sama saja: beraksesoris.

Fawai (smartphone) adalah aksesoris yang sudah menjadi kebutuhan dan alat utama. Jangan ketinggalan. Gunakan tas tangan (pouch) yang netral dan profesional, meski tidak harus mahal.

Saya menyarankan untuk membaca buku Etiket karya Mein Uno. Kita akan belajar banyak tentang cara membawa diri di berbagai acara dan kesempatan.

(WS, Bandara Juanda)

Posted on Leave a comment

Berpenampilan Profesional

Seri-10, Layanan

Professional image adalah konstelasi/penggabungan dari representasi (hal) yang nyata dan terlihat dengan persepsi yang dihasilkan dari perilaku seseorang sebagai seorang profesional, berkaitan dengan perilaku etis dan kompetensi (yang dimiliki). (Service Operation, MIM Academy, Esensi, 2009).

Kalau dapat saya rumuskan dengan metode terbalik, sebagai berikut: Perilaku etis dan kompetensi yang kita miliki, hendaklah memadai sebagai seorang yang profesional (cakap). Dalam bidang kita tentunya, misal penjualan, pemasaran dan layanan. Perilaku dan kompetensi tersebut harus dipersepsikan dan ditampilkan dengan baik melalui hal yang nyata/terlihat.

Penampilan secara profesional terkait dengan bidang pekerjaan dan tentu saja pelanggan yang dihadapi. Jika pelanggan yang akan kita hadapi adalah korporasi, pemerintahan, lembaga tertentu, maka pakaian berwarna dasar, model formal adalah hal yang standar. Celana kain dipadukan kemeja lengan panjang, pakai dinas harian perusahaan, dipadukan sepatu pantofel dapat menjadi pilihan. Batik dengan bawahan warna hitam, adalah pilihan yang bisa di segala suasana. Jas dengan dasi terkadang diperlukan untuk pelanggan dan momen tertentu.

Jika pelanggan kita adalah distributor, retailer, saya lebih menyukai semi formal. Kemeja lengan pendek atau kaos berkerah, dipadukan celana bahan atau jins warna gelap, dan sepatu kets atau sneakers adalah tampilan yang memadai.

Saat turun ke kebun atau sawah bersama petani, pakaian lapang, sepatu boots, adalah hal nyang perlu disesuaikan. Keamanan saat menggunakan pupuk dan pestisida juga perlu disiapkan. Jangan enggan turun ke sawah. Lepaslah alas kaki. Nikmati asiknya berinteraksi dengan alam dan lingkungan.
(WS)

Posted on 1 Comment

Penjual Profesional

Seri Ke-9, Serial Layanan

Foto by Nugroho Wahyu (pexels.com)

Kita harus profesional. Sebagai penjual pun harus profesional. Penjual di industri pertanian, juga harus profesional.

Profesional artinya memenuhi kualifikasi atau keahlian dalam bidang tertentu, termasuk penjualan dan layanan di sektor pertanian. Profesional paling utama adalah dalam kompetensi dan kinerja. Yang harusnya dapat diperlihatkan secara baik dalam penampilan: profesional image.

Bukan hanya kompetensi dan kinerja, penampilan juga harus terlihat profesional. Karena penjual adalah wajah bagi diri sendiri dan perusahaan. Pintu masuk mengenal isi dan apa yang akan disampaikan, serta jendela bagi pelanggan untuk mengetahui, termasuk menilai perusahaan.

Professional image juga memberikan kesan pertama terhadap kualitas pembicaraan, tawaran, dan layanan yang akan diberikan. Pertama ketemu orang penjualan, kita tidak tahu karakternya. Kita tidak tahu kualitas pembicaraannya, apa lagi produknya. Pertama yang dinilai adalah penampilannya.

Yang terpenting adalah, bahwa dengan berpenampilan profesional, berpenampilan yang baik, merupakan bentuk penghargaan kepada pelanggan. Pelanggan akan merasa dihormati, dihargai, dan diperlakukan dengan layak, apabila ditemui orang dengan penampilan yang menarik.

Pimpinan kami sangat peduli dengan penampilan ini. Bukan soal ganteng atau cantiknya. Bukan soal mahal atau murahnya, untuk dapat berpenampilan baik. Tapi pada lebih bagaimana tampilan itu rapi dan layak, serta sepadan untuk mewakili image perusahaan.

Pernah suatu ketika, istri saya mengingatkan agar saha merapikan rambut, membeli baju baru yang memadai, namun blm saya lakukan. Sampai tidak berapa lama, saya dipanggil pimpinan/atasan saya secara khusus. Terkait penampilan saya. Bagaimana penampilan harus merepresentasikan perusahaan, posisi, dan pelanggan. Saya ingat betul nasihat beliau. Dan bab ini saya persembahkan bagi penjual dan insan pemasaran di dunia pertanian yang telah berupaya memperbaiki dan menyesuaikan penampilan agar terlihat profesional sesuai kelompok pelanggan yang dihadapi.

(WS)

Posted on Leave a comment

Layanan Positif

Seri Ke-8, Memberi Layanan

Foto oleh Binti Malu (pexels.com)

Untuk dapat memberikan layanan yang baik, kita harus memiliki pikiran dan sikap positif. Karena melayani adalah menularkan “kepositifan” untuk merumuskan solusi bagi permasalahan pelanggan.

Untuk mendapatkan nuansa (pikiran dan sikap) positif kita harus memahami diri sendiri dan bersikap terbuka untuk perbaikan diri. Terus belajar dan memperbaiki diri, mengembangkan toleransi, mengasah kepekaan, dan mengurangi Baper.

Bahasa kerennya adalah learning agility. Kemauan untuk terus belajar. Dengannya kita sebagai orang yang memberikan layanan kepada pelanggan, akan berjalan menjadi seseorang yang profesional.

Berpikir positif, akan melahirkan tindakan positif. Berusaha selalu menemukan sisi positif dalam setiap kejadian. Meningkatkan toleransi, dan mengurangi Baper.

Kita dapat menyusun ilustrasi. Jika ada Petani/Pengecer mengeluhkan dan mengatakan pupuk yang kita pasarkan tidak berkualitas. Dalam sikap positif dan kepekaan, kita berusaha memahami sudut pandang Petani/Pengecer.

Disisi lain, jika tidak ada keluhan, belum tentu kita sebagai penjual di hubungi oleh pelanggan. Ini kesempatan memberikan edukasi kepada pelanggan. Dan kesempatan bagi kita untuk mempraktikkan kompetensi penjualan (salah satunya penanganan keluhan).

(WS)

Posted on Leave a comment

Ramadan, Bukan Puasa Layanan

Seri Sela, Memberi Layanan

Ada sebuah istilah dalam pemasaran yang saya sangat suka: seasonal marketing. Pemasaran Musiman. Sebuah strategi bagi brand (jenama) dan perusahaan untuk mendapat hasil -penjualan, profit dan target- lebih tinggi di musim dan waktu tertentu.

Ramadan dan Idul Fitri, misalnya. Momen terbesar umat Islam di Indonesia. Semua sepakat merayakannya. Banyak momen-momen yang bisa dimanfaatkan.

Diskon spesial, bundling khusus, meluncurkan produk baru dan khusus. Bahkan bagi produk yang sama sekali tidak terkait dengan Ramadan, mampu memanfaatkan musim itu untuk mengungkit penjualan. Rugi jika tidak mampu memanfaatkannya.

Tidak hanya di penjualan. Bidang layanan pun turut meramaikan. Beberapa jenama memberikan layanan khusus untuk momen spesial itu. Seperti yang dilakukan operator taksi terbesar di Indonesia ini. Memberikan takjil -makanan pembuka- bagi pelanggannya yang berpuasa. Meski tidak perlu ditanya: Anda puasa? Sebelum memberikannya. Lebih baik memberi layanan ini kepada semua pelanggan. Daripada ada pelanggan membutuhkan tapi tak mendapatkan.

Ramadan, bukan berarti puasa layanan. Bahkan geliat layanan makin meningkat tajam. Selain memberikan perhatian kepada pelanggan, membagi takjil juga berbuat baik bagi orang yang sedang beribadah. Semoga berbuah berkah.

(WS)

Posted on Leave a comment

Bangunan Layanan

Seri ke-7, Memberi Layanan

Foto oleh Burak Demir (pexels.com)

RATER, akronim dari kelima dimensi atau elemen layanan. Yang secara akumulasi menegakkan dan membentuk bangunan layanan. Kekuatan, daya tahan, dan keindahan layanan tergantung bagaimana interaksi dan ikatan kelima elemen ini.

Reliability. -keandalan- Seberapa mampu perusahaan, unit kerja, atau personel memberikan layanan yang akurat kepada pelanggan. Akurat di sini adalah sesuai yang ditawarkan. Apa yang seharusnya diberikan? Apa yang dijanjikan?

Layanan yang andal selalu dinantikan pelanggan. Contoh sederhana. Jika seorang penjual telah berjanji akan berkunjung ke kios pada hari dan jam tertentu, apapun alasannya ia akan datang. Tepat waktu. Ini adalah penjual andal (reliabel) dalam memberikan layanan. Dalam hal ini janji bertemu. Penjual juga harus dapat dan bersedia memberikan bantuan terhadap kesulitan yang dihadapi pelanggan.

Assurance. Perusahaan, unit kerja, dan individu organisasi penjualan harus terpercaya, terjamin dalam memberi layanan. Data/informasi salah satunya. Keramahan, komunikasi yang mudah dipahami. Pengetahuan yang memadai dalam melayani pelanggan.

Seorang penjual pupuk -misalnya-, tentu harus dibekali informasi harga. Sangat tidak masuk akal jika seorang penjual menawarkan produk, ketika ditanya harga ia menjawab “sebentar saya tanyakan”. Penanya akan berpikir: “Serius Anda ini penjual pupuk”. Tanya dalam hati, tak percaya. Ini contoh penjual yang tidak siap melayani.

Tangible. Berwujud. Layanan yang baik harus terwujudkan. Tergambarkan dan dirasakan secara yata. Sebagai penjual tentu harus rapi, fasilitas memadai, alat kerja yang mencukupi. Kalau di dunia pertanian tentu menyesuaikan dengan pelanggan yang dihadapi. Tidak perlu lebai, tapi memadai.

Sepatu lapang, celana jins, kaos berkerah, warna yang sepadan, rambut tercukur dan tersisir rapi adalah tampilan untuk kunjungan ke petani atau ke kios. Jas berdasi untuk pelanggan korporasi adalah yang lumrah terlihat.

Empati. Perhatian terhadap pelanggan. Apakah kita memahami pelanggan? Apakah kita bersedia mendengarkan pelanggan? Pertanyaan yang perlu ditanyakan untuk mengukur tingkat empati kita. Empati adalah soal mendengarkan. Dan kita telah diskusikan di bagian sebelumnya (mendengarkan untuk memahami).

Responsif. Layanan harus cepat dan tepat. Untuk itu diperlukan kepedulian dan keingintahuan terhadap kesulitan yang dihadapi pelanggan.

Saya memiliki pengalaman menarik. Sebagai pelanggan. Kemarin, saya memesan layanan hotel. Via aplikasi daring bergambar burung. Saat lapor hendak masuk hotel tujuan, kupon pesanan dilihat. Ternyata keliru. Saya memesan untuk hari berikutnya. Saya pun diminta menyelesaikan dulu dengan pihak aplikasi.

Saya meninggalkan hotel untuk makan malam sabil menelepon layanan pelanggan. Suara yang phonogenic menyapa di ujung saluran. Menanyakan kesulitan saya. Saya menjelaskan bahwa telah salah pesan dan ingin mengganti jadwal menjadi malam ini. Padahal, sesuai pesanan adalah besok.

Dia pun meminta waktu untuk memproses (2 menit, tanpa mematikan telepon). Lalu dia akan konfirmasi ke hotel (5 menit), dan akan menghubungi saya kembali. Lima menitan kemudian di menelepon. Dan perubahan saya disetujui. Dia juga menginformasukan bahwa dalam 10 menit perubahan kupon akan di email.

Semua prosesnya saya nilai presisi. Sangat andal, dapat dipercaya, terwujud nyata, responsif, dan  berempati. Empatinya, tidak dikenakan biaya padahal jenis pesanan saya berjenis “tidak bisa di-refund” dan “tidak bisa reschedule”. Tampaknya dia paham, saya butuh penghematan. Empati mereka benar-benar yang terwujudkan.

(WS)

Posted on Leave a comment

Bukti Andal

Seri-6, Memberi Layanan

Foto oleh Karolina Grabowska (pexels.com)

Sebagai penjual -dalam skala yang lebih besar adalah perusahaan- harus mampu memberikan layanan yang memadai kepada pelanggan. Dan harus terbukti. Teruji dalam konsistensi. Bukan angin-anginan.

Ada pertanyaan sederhana untuk mengujinya. Apakah kita -sebagai penjual- mengetahui layanan yang dibutuhkan pelanggan? Apakah kita mengetahui layanan yang seharusnya diberikan kepada pelanggan? Apakah kita menyampaikan janji tertentu kepada pelanggan? Apakah kita telah memenuhi janji tersebut? Apakah kita selalu pada posisi memenuhi janji?

Sebagai contoh sederhana. Sebagai penjual, individu, unit kerja, atau perusahaan (misal pupuk), kita menjanjikan akan menyerahkan barang secara FOT (free on truck) sejak H+1 pembayaran hingga 21 hari ke depan.

Pelanggan memiliki kesempatan dan kewajiban mengambil barangnya sampai 21 hari kalender. Ketika pelanggan datang membawa truknya pada hari ke-15, ternyata  barangnya belum tersedia. Atau habis. Atau sudah diambil pelanggan yang lain. Ini namanya cidera janji.

Reliability, keandalan layanan kita tidak terbukti. Kita tidak mampu memenuhi janji yang diberikan.

Perlu dipertimbangkan dalam memasang target layanan yang dijanjikan. Namun harus memadai. Artinya ada sebuah layanan dasar yang wajib diberikan. Seperti kasus di atas. Penyerahan barang bukan suatu hal yang bisa tidak diberikan. Ia layanan yang harus diberikan. Waktunya yang perlu dipertimbangkan. Tidak boleh terlalu lama. Ini pentingnya mendengarkan pelanggan dalam memberikan layanan. Kapan layanan harus diberikan kepada pelanggan?!

(WS)

Posted on Leave a comment

Sentuhan Layanan

Seri-5, Memberi Layanan

Foto oleh Jenna Hamra (pexels.com)

Layanan bukan sesutu yang abstrak. Ia nyata. Bisa dirasa, sebagian bisa dilihat, dan bisa diukur. Karena itu layanan dapat diimplementasikan. Konsepnya disebut kualitas layanan (service quality).

Semua layanan yang diberikan oleh suatu perusahaan kepada pelanggan, memiliki tingkat kualitas tertentu. Bisa baik ataupun buruk. Baik di satu sisi, bisa berbeda disisi yang lain.

Sisi layanan ini biasa disebut dimensi atau elemen layanan. Keandalan (reliability) , daya tanggap (responsiveness), jaminan (assurance),  Empati, dan nyata (tangible). Dimensi ini penting bagi perusahaan. Selain harus ada, ia harus berbeda dari perusahaan lain. Ini yang menjadikan layanan berkaitan dengan brand. Branded service.

Tingkat kepentingan masing-masing elemen juga berbeda. Sehingga perusahaan -termasuk para penjualnya- harus mampu memilih dan memilah mana dimensi yang harus diutamakan.

Akumulasi dimensi maupun masing-masing juga harus bisa diukur. Itu mengapa ada konsep CSI (Customer Satisfaction Index) untuk pelanggan secara umum. Dan ada ICSI (Internal Customer Satisfaction Index) untuk pelanggan internal atau unit kerja lain di perusahaan.

Ukuran ini diperlukan untuk mengetahui tingkat kepentingan dan performa masing-masing dimensi. Sehingga kita mengetahui mana yang perlu ditingkatkan, mana yang perlu dipertahankan.
(WS)